RAT Koperasi MBB Tuai Kritik, Anggota Pertanyakan Hasil Pengelolaan Kebun Sawit 114 Hektare
BENGKALIS – Pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 Koperasi Madani Berkah Bersama (MBB) yang digelar pada Juni 2026 di Desa Buruk Bakul, Kecamatan Bukit Batu, memunculkan sejumlah pertanyaan dari kalangan anggota terkait pengelolaan kebun sawit yang menjadi salah satu sumber usaha koperasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Koperasi MBB mengelola lahan sawit eks sitaan negara seluas sekitar 114 hektare melalui kemitraan dengan Agrinas. Dari luas tersebut, sekitar 94 hektare disebut telah produktif dan menghasilkan buah sawit ketika pengelolaannya diserahkan kepada koperasi pada Agustus 2025.
Dengan kondisi kebun yang telah memasuki masa produksi, sejumlah anggota menilai pengelolaan selama periode Agustus hingga Desember 2025 semestinya menghasilkan pendapatan yang dapat dijelaskan secara rinci kepada anggota dalam forum RAT.
. Kondisi inilah yang kemudian menjadi dasar munculnya pertanyaan dari sebagian anggota mengenai penggunaan dan pengelolaan dana hasil usaha koperasi.Berdasarkan informasi yang dihimpun, Koperasi MBB mengelola lahan sawit eks sitaan negara seluas 114 hektare melalui kemitraan dengan Agrinas.
Dari luas tersebut, sekitar 94 hektare diketahui merupakan lahan produktif yang telah menghasilkan buah sawit saat pengelolaan diserahkan kepada koperasi pada Agustus 2025. Artinya, koperasi tidak memulai dari tahap penanaman, melainkan langsung mengelola kebun yang telah memasuki masa produksi dan siap dipanen.
Pengelolaan berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025 atau sekitar lima bulan selama tahun buku yang dipertanggungjawabkan dalam RAT. Menurut informasi yang beredar di kalangan anggota, keuntungan dari hasil panen kebun tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp100 juta per bulan.
Jika angka tersebut mendekati kondisi sebenarnya, maka dalam lima bulan potensi keuntungan dapat mencapai sekitar Rp500 juta. Namun, yang menjadi sorotan anggota adalah tidak adanya pembagian hasil usaha yang signifikan kepada sekitar 350 anggota koperasi.
Bahkan menjelang Hari Raya Idulfitri lalu, anggota hanya menerima dana sekitar Rp200 ribu per orang, yang menurut penjelasan pengurus bukan merupakan pembagian keuntungan atau SHU, melainkan pinjaman koperasi.
Selain itu, beredar informasi bahwa terdapat pengeluaran yang cukup besar di duga untuk berbagai kegiatan jamuan, kunjungan, dan kebutuhan entertaintment yang berkaitan dengan aktivitas Agrinas wilayah Riau. Informasi tersebut menimbulkan dugaan adanya pemborosan anggaran yang dinilai dapat mengurangi manfaat ekonomi yang seharusnya diterima anggota.
"Kalau memang kebun sudah menghasilkan dan dikelola selama beberapa bulan, tentu anggota ingin mengetahui secara rinci berapa pendapatan yang masuk, berapa biaya operasional yang dikeluarkan, dan berapa keuntungan bersih yang sebenarnya diperoleh," ujar salah seorang anggota yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Sejumlah anggota menyebut sejak awal pernah disampaikan adanya pola pembagian hasil dengan skema 40 persen dan 60 persen. Karena itu mereka berharap memperoleh penjelasan lebih rinci mengenai realisasi skema tersebut dalam laporan pertanggungjawaban pengurus.
Forum RAT yang seharusnya menjadi sarana pertanggungjawaban pengurus kepada anggota kini justru memunculkan berbagai pertanyaan baru. Sejumlah anggota mendesak agar laporan keuangan koperasi dibuka secara rinci dan, bila diperlukan, dilakukan audit independen guna memastikan seluruh pendapatan dan pengeluaran dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.
Mereka menilai langkah tersebut penting untuk menjawab berbagai spekulasi yang berkembang sekaligus menjaga kepercayaan anggota terhadap koperasi.
Hingga berita ini diterbitkan, media telah berupaya menghubungi Ketua Koperasi Madani Berkah Bersama untuk meminta konfirmasi dan klarifikasi terkait berbagai pertanyaan yang muncul dalam RAT tersebut. Namun hingga berita ini ditayangkan belum ada tanggapan maupun keterangan resmi yang diberikan.
Media ini juga masih membuka ruang hak jawab kepada pihak Koperasi Madani Berkah Bersama maupun pihak Agrinas apabila ingin memberikan penjelasan atau klarifikasi atas informasi yang berkembang di tengah anggota.
Untuk selanjutnya, media akan terus menelusuri perkembangan persoalan ini guna memperoleh informasi yang lebih lengkap, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Komentar