Kampung Literasi Pekijing, Di Antara Buku dan Senyum Lansia, Literasi Menemukan Maknanya

Nasional | 15 May 2026 21:31:59
Kampung Literasi Pekijing, Di Antara Buku dan Senyum Lansia, Literasi Menemukan Maknanya

BANTEN - SERANG - SuaraXPost - Suara lirih anak-anak yang membacakan cerita terdengar pelan di sudut Kampung Literasi Pekijing. Di hadapan mereka, para lansia yang tak dapat membaca menyimak dengan tenang, sesekali tersenyum ketika halaman demi halaman buku dibacakan penuh kesabaran. Pemandangan sederhana itu menghadirkan kehangatan yang sulit dijumpai di tengah kehidupan yang serba cepat. Kota Serang, Banten, 12 Mei 2026

Di Pekijing, literasi tidak hanya hidup melalui buku, tetapi juga tumbuh dari rasa peduli dan kebersamaan antargenerasi.Kampung Literasi Pekijing, Kota Serang, Banten berhasil mewujudkan harapan warga untuk menghidupkan dan menguatkan literasi masyarakat berbasis komunitas dan keluarga. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafidz Muksin, Selasa (12/5/2026)

saat lakukan kunjungan menegaskan bahwa peningkatan dan penguatan literasi tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi bersama masyarakat, komunitas, dan keluarga.

“Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,” ujarnya yang pada kesempatan itu juga didampingi oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Devyanti Asmalasari.

Kampung Literasi Pekijing tampil beda karena membangun rumah-rumah kotak kecil berisi buku bacaan yang berdiri di halaman rumah warga yang dapat diakses siapa saja. Kehadiran sudut-sudut baca sederhana itu menjadikan buku lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menurut Hafidz, praktik baik yang dilakukan Kampung Literasi Pekijing dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menghadirkan ruang literasi yang dekat, terbuka, dan ramah bagi masyarakat.

“Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,” katanya.

Di Kampung Literasi Pekijing, literasi tumbuh tidak hanya melalui kegiatan membaca buku, mendongeng, membaca bersama, bermain permainan tradisional, hingga berlatih seni dan musik. Sementara itu, para lansia turut dilibatkan dalam kegiatan melukis, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan.

Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, menjelaskan bahwa penyediaan buku di rumah-rumah warga awalnya sempat diragukan apakah dapat berjalan dengan efektif dan diterima masyarakat. Namun, pendekatan yang sederhana justru membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan buku.

“Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik maka masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku. Dari situ kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Di Kampung Literasi Pekijing, buku bukan sekadar lembar halaman berisi kalimat, melainkan jembatan yang mempertemukan generasi, menumbuhkan empati, dan menghidupkan kebersamaan. Dari suara dongeng anak-anak hingga senyum para lansia yang kembali bersemangat berkarya, kampung itu menghadirkan makna bahwa literasi sejatinya adalah tentang memanusiakan manusia. Sebab di tempat kecil itulah, belajar tidak mengenal usia, dan kebersamaan menjadi pelajaran paling berharga.(kk*)

Komentar
Guest