Perpusnas Dorong Perpustakaan Jadi Laboratorium Indonesia Lewat Buku

Nasional | 15 May 2026 19:30:55
Perpusnas Dorong Perpustakaan Jadi Laboratorium Indonesia Lewat Buku

HUT ke-46 Perpusnas Tegaskan Peran Pustaka sebagai Ruang Belajar, Riset, dan Peradaban Bangsa

JAKARTA - SuaraXPost — Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menegaskan bahwa perpustakaan tidak lagi sekadar tempat menyimpan buku, tetapi harus menjadi “laboratorium Indonesia” yang membuka ruang belajar, riset, dan pembentukan karakter bangsa melalui pengetahuan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertema “46 Tahun Perpusnas: Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” yang digelar dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-46 Perpusnas.

Dalam momentum tersebut, Perpusnas mengajak masyarakat melihat buku bukan hanya sebagai bahan bacaan, melainkan jendela untuk memahami perjalanan bangsa, kebudayaan, hingga tantangan masa depan Indonesia.

Perpusnas menilai, perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pusat lahirnya gagasan dan ruang bertemunya pengetahuan lintas generasi. Melalui buku, masyarakat dapat belajar tentang sejarah, sains, budaya, teknologi, hingga nilai-nilai kebangsaan yang membentuk identitas Indonesia.

Konsep “laboratorium Indonesia” yang diusung Perpusnas menggambarkan perpustakaan sebagai ruang hidup tempat masyarakat dapat mengamati, mempelajari, dan memahami Indonesia secara lebih utuh. Tidak hanya bagi akademisi dan peneliti, tetapi juga untuk pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan banjir informasi, keberadaan perpustakaan dinilai semakin penting untuk membantu masyarakat memperoleh sumber pengetahuan yang kredibel dan berkualitas. Buku tetap menjadi medium penting dalam membangun budaya literasi sekaligus memperkuat daya pikir kritis masyarakat.

Perpusnas juga menekankan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat pengetahuan dan memanfaatkan literasi sebagai fondasi pembangunan. Karena itu, perpustakaan harus hadir lebih dekat, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan generasi muda di era modern.

Memasuki usia ke-46, Perpusnas berharap semangat merawat pustaka dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Sebab dari buku, lahir pemikiran. Dari literasi, tumbuh peradaban. Dan dari perpustakaan, Indonesia belajar mengenali dirinya sendiri.

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz menyampaikan bahwa perjalanan panjang lembaga ini harus menjadi ruang untuk terus mengevaluasi diri. Menurutnya, Perpusnas perlu terus bertanya apakah layanan yang diberikan benar-benar telah menjangkau masyarakat dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. 

Dalam sambutannya, Aminudin menegaskan bahwa Perpusnas lahir dari kesadaran pentingnya menjaga warisan pengetahuan bangsa. Ia menyatakan bahwa apa yang disimpan, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya akan menentukan posisi Indonesia di hadapan sejarah.

Amin juga menambahkan, merawat pustaka berarti memastikan pengetahuan tetap hidup, bisa diakses, dibaca, diperdebatkan, dan menginspirasi. “Pengetahuan yang tidak bergerak adalah pengetahuan yang sedang menunggu untuk dilupakan. Dari sanalah martabat bangsa dibangun yang muncul dari masyarakat yang literat, tidak mudah termakan informasi liar, mampu berpikir kritis di tengah beragam informasi yang terkadang membingungkan,” terangnya. 

Seminar nasional tersebut menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang untuk membahas tantangan dan masa depan dunia perpustakaan serta literasi. Narasumber tersebut antara lain Director Indonesia Doctoral Training Partnership dari University of Nottingham Bagus P. Muljadi, Presiden ASEAN Public Libraries Information Network (APLiN) Chaerul Umam, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman Nugraha, dan Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka.

Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka menyampaikan bahwa sejak awal pembangunan bangsa, perpustakaan telah ditempatkan sebagai bagian penting dalam revolusi pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Menurutnya, keberadaan perpustakaan tetap relevan meskipun masyarakat kini hidup di era digital.

“Perpustakaan terus diulang-ulang dalam buku. Walaupun sekarang ada perpustakaan digital, tetap tidak bisa meninggalkan buku-buku lama,” ujarnya.

Rieke menilai pembangunan perpustakaan perlu diperluas hingga tingkat desa melalui penguatan perpustakaan desa, sekolah rakyat, dan ruang baca masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar akses terhadap pengetahuan dapat semakin merata di seluruh wilayah Indonesia.

Pada kesempatan itu, Rieke juga menyoroti pentingnya buku sebagai sumber pustaka yang memuat landasan pemikiran tentang literasi dan perpustakaan. Ia menunjukkan sejumlah buku GBHN yang berhasil diperjuangkannya bersama Bappenas untuk diakui sebagai ingatan kolektif nasional oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Director Indonesia Doctoral Training Partnership dari University of Nottingham, Bagus P. Muljadi menegaskan bahwa khazanah pustaka Nusantara yang dimiliki Perpusnas menyimpan sistem pengetahuan yang kaya dan lengkap. Menurutnya, kekayaan pengetahuan tersebut dapat menjadi modal penting untuk membawa Indonesia keluar dari post-colonial mindset. 

Pada kesempatan itu, Bagus mencontohkan masyarakat Jawa yang sejak lama memahami hubungan antara Gunung Merapi, Laut Selatan, dan aktivitas alam sebagai satu kesatuan kosmologis. Menurutnya, konsep tersebut kini dapat dipahami dalam perspektif geologi dan mitigasi bencana modern. 

“Orang Jawa sudah tahu bahwa raja sesungguhnya adalah alam itu sendiri,” katanya. 

Ia juga menilai bahwa selama ini Indonesia masih dipandang dunia hanya sebagai negara eksotik dengan budaya dan tradisi, bukan sebagai penghasil ilmu pengetahuan. Padahal, banyak konsep pengetahuan lokal Nusantara yang memiliki keterkaitan dengan ilmu modern dan relevan untuk dikembangkan dalam konteks global saat ini. 

Menurut Bagus, pengetahuan yang tersimpan dalam pustaka perlu terus disampaikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, pustakawan memiliki peran penting sebagai pengelola pengetahuan, termasuk dalam pengelolaan koleksi naskah kuno Nusantara. 

Presiden ASEAN Public Libraries Information Network (APLiN), Chaerul Umam menyampaikan bahwa pustakawan berkompetensi global adalah pustakawan yang memahami keterhubungan dunia dan mampu bekerja dalam lingkungan multikultural. Selain itu, pustakawan juga dituntut adaptif terhadap perkembangan teknologi dan memiliki kemampuan kolaborasi internasional. 

“Pustakawan tidak lagi hanya berperan sebagai pengelola koleksi tetapi juga fasilitator pengetahuan global di tengah perubahan besar dunia perpustakaan akibat digitalisasi informasi, kecerdasan buatan, open access, globalisasi pengetahuan, multikulturalisme hingga kolaborasi lintas negara dan disiplin,” jelasnya.

Berdasarkan kajian ilmu perpustakaan, Umam menjelaskan terdapat tiga pilar kompetensi global pustakawan. Ketiga pilar tersebut meliputi personal skill berupa sikap dan kemampuan diri, generic skill berupa kemampuan lintas bidang, serta discipline-specific knowledge atau pengetahuan inti di bidang perpustakaan dan informasi.

Sementara itu, Ketua Umum IKAPI Arys Hilman Nugraha menyampaikan optimismenya terhadap masa depan dunia perbukuan nasional. Optimisme tersebut didasarkan pada meningkatnya tren membaca dan tingginya antusiasme Generasi Z terhadap pameran buku.

“Pameran buku Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention Center yang diselenggarakan tahun lalu, selalu dipadati pengunjung khususnya Generasi Z. Mereka terlihat sangat terhubung dengan dunia baca secara global. Mereka mengetahui buku-buku yang akan terbit dan menantikan kehadirannya. Saat itu ada sebuah buku yang terbit pada 27 Agustus. Ketika kami menggelar pameran pada 19 September, buku tersebut sudah habis terjual, padahal belum diterjemahkan,” urainya.

Kendati demikian, Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan aliterasi, yakni masyarakat yang sudah mampu membaca tetapi belum memiliki kebiasaan dan budaya baca yang kuat. Karena itu, menurutnya diperlukan dukungan akses terhadap buku, perpustakaan, toko buku, hingga harga buku yang terjangkau agar budaya baca dapat tumbuh di tengah masyarakat.

“Oleh karena itu dibutuhkan dukungan akses terhadap buku, perpustakaan, toko buku, hingga harga buku yang terjangkau sehingga budaya baca dapat tumbuh di masyarakat,” jelasnya.

Melalui momentum 46 tahun pengabdiannya, Perpusnas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem literasi nasional. Perpusnas juga terus mendorong perpustakaan sebagai ruang pembelajaran, pusat pengetahuan, dan sarana memartabatkan bangsa di tengah perubahan global yang semakin dinamis. (kk*)

Komentar
Guest