Datok Auzar Husin dan Jejak Sejarah Negeri Bukit Batu: Menyusuri Peradaban Tua di Pesisir Bengkalis

Daerah | 15 Aug 2026 19:54:51
Datok Auzar Husin dan Jejak Sejarah Negeri Bukit Batu: Menyusuri Peradaban Tua di Pesisir Bengkalis

BENGKALIS – Nama Datok Auzar Husin dikenal luas di kalangan masyarakat Bukit Batu sebagai salah seorang tokoh budaya dan pemerhati sejarah yang selama bertahun-tahun berupaya menelusuri asal-usul Negeri Bukit Batu, sebuah kawasan bersejarah yang diyakini memiliki peran penting dalam perjalanan peradaban Melayu di pesisir timur Sumatera.

Melalui berbagai penelitian lapangan, penelusuran naskah lama, cerita lisan para orang tua, hingga temuan benda-benda purbakala, Datok Auzar Husin berusaha merangkai kembali kepingan sejarah yang selama ini tercecer dan nyaris terlupakan. Hasil penelusuran tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah kerangka penelitian berjudul "Menyusuri Jejak Negeri Bukit Batu", yang memuat sejumlah temuan dan hipotesis sejarah mengenai keberadaan negeri tua tersebut.

Menurut Datok Auzar Husin, Negeri Bukit Batu bukan sekadar sebuah kawasan yang dikenal saat ini sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkalis. Ia meyakini wilayah tersebut pernah menjadi pusat peradaban yang lebih tua, bahkan memiliki hubungan erat dengan jalur perdagangan dan penyebaran agama di kawasan Selat Malaka.

Dalam penelusurannya, Datok Auzar mengacu pada berbagai sumber, termasuk cerita rakyat Bukit Batu, naskah *Hikayat Malim Dewa* yang diterbitkan di Malaysia, serta temuan benda-benda kuno di kawasan Pantai Sepahat, Laut Merambung, dan Desa Bukit Batu.

Salah satu temuan yang menarik adalah dugaan bahwa Negeri Bukit Batu awal berada di sekitar muara Sungai Merambung. Namun akibat abrasi yang berlangsung selama berabad-abad, garis pantai terus berubah hingga menghilangkan sebagian besar jejak fisik peradaban lama tersebut.

"Bukit Batu yang kita kenal hari ini kemungkinan hanya sisa dari kawasan yang jauh lebih luas pada masa lampau. Abrasi laut selama ratusan tahun telah mengubah bentuk wilayah dan menghapus banyak bukti sejarah yang ada," ungkap Datok Auzar dalam catatan penelitiannya.

Jejak Budha dan Hindu di Bukit Batu

Penelitian Datok Auzar juga mengungkap dugaan bahwa sebelum datangnya Islam, masyarakat Bukit Batu telah mengenal ajaran Budha dan Hindu.

Berdasarkan temuan benda-benda kuno yang ditemukan di sekitar wilayah pesisir, ia memperkirakan pengaruh Budha masuk melalui hubungan dengan Negeri Muara Takus yang pada masa lampau dikenal sebagai pusat agama Budha di Riau. Pengaruh tersebut diperkirakan berlangsung antara abad ke-6 hingga abad ke-10.

Setelah itu, masuk pula pengaruh Hindu dari Kerajaan Malaka yang berkembang melalui jalur perdagangan laut. Menurut Datok Auzar, beberapa adat dan budaya masyarakat Melayu Bukit Batu hingga kini masih menyimpan jejak-jejak pengaruh Hindu yang telah berakulturasi dengan budaya lokal dan Islam 

Memasuki masa berikutnya, Islam berkembang melalui jalur perdagangan Selat Malaka dan perlahan menjadi agama utama masyarakat Bukit Batu, sebagaimana yang terjadi di berbagai wilayah pesisir Melayu lainnya.

Datuk Temenggung dan Awal Perkembangan Bengkalis

Dalam catatan sejarah yang dihimpun Datok Auzar, terdapat tokoh penting bernama *Datuk Temenggung Raja Dilawang Antan Dilaut* yang diyakini pernah memimpin Negeri Bukit Batu.

Ia disebut memerintahkan sebagian masyarakat untuk berpindah ke Pulau Bengkalis ketika wilayah tersebut mulai berkembang sebagai pusat pemukiman baru. Saat itu, Pulau Bengkalis masih dihuni oleh penduduk yang relatif sedikit.

Seiring waktu, berkembanglah empat kampung utama yakni Bengkalis, Sungai Alam, Senderak, dan Penebal. Untuk mengatur wilayah tersebut, Datuk Temenggung menunjuk sejumlah pemimpin kampung yang dikenal dengan sebutan Batin.

Perkembangan ini kemudian menjadi salah satu cikal bakal terbentuknya struktur pemerintahan tradisional Melayu di wilayah Bengkalis.

Peran Bukit Batu dalam Sejarah Melayu 

Kajian Datok Auzar turut menyoroti posisi strategis Bukit Batu dalam jaringan perdagangan dan pertahanan kawasan Selat Malaka. Dalam sejarah resmi Kabupaten Bengkalis, Bukit Batu memang dikenal memiliki hubungan erat dengan Datuk Laksamana Raja Di Laut sebagai penerus penguasa wilayah pertahanan Kerajaan Siak Sri Indra Pura dikawasan Pesisir - Bengkalis

Sejumlah situs sejarah seperti makam Datuk Laksamana, rumah peninggalan Datuk Laksamana, masjid tua, serta berbagai artefak lainnya hingga kini masih dapat ditemukan di wilayah Bukit Batu sebagai bukti penting perjalanan sejarah kawasan tersebut.

Menjaga Warisan Sejarah untuk Generasi Mendatang

Bagi Datok Auzar Husin, penelitian sejarah bukan hanya tentang mengungkap masa lalu, tetapi juga menjaga identitas masyarakat Melayu agar tidak hilang ditelan zaman.

Ia menilai masih banyak bagian sejarah Bukit Batu yang belum diteliti secara mendalam. Karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah, akademisi, budayawan, serta masyarakat untuk melakukan penelitian lanjutan, termasuk kajian arkeologi dan dokumentasi terhadap situs-situs bersejarah yang tersisa.

"Jika sejarah tidak dicatat dan dilestarikan, maka generasi mendatang hanya akan mewarisi cerita tanpa bukti. Padahal Bukit Batu memiliki jejak peradaban yang sangat berharga bagi sejarah Melayu di Bengkalis maupun Riau," tulis Datok Auzar dalam kesimpulan penelitiannya.

Penelitian yang dilakukan Datok Auzar Husin menjadi salah satu upaya penting dalam membuka kembali lembaran sejarah Negeri Bukit Batu. Meski sebagian temuannya masih memerlukan kajian akademik yang lebih mendalam, gagasan dan penelusuran yang ia lakukan telah memberikan kontribusi besar dalam membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya Melayu yang ada di Kabupaten Bengkalis.

Komentar
Guest